Seperti
biasa pelajaran berlangsung jam 07:00 sampai 12:30 siang, sepanjang waktu kelas
selalu terlihat sangat gaduh. Setiap hari juga seperti itu. Aku dan teman-teman
bertindak semaunya sendiri, tapi! Tupun Kecuali satu mata pelajaran
“MATEMATIKA” tidak ada yang berani , satupun kata tak keluar (takut sama
gurunya).
Malam
itu, PR menumpuk “uh!! Capek”. Aku, Yuli, Ziar dan teman-teman yang lain
berkumpul ke rumah temen cowok. Setibanya di rumah dia, karena terlalu banyak
anak-anak akhirnya aku bilang “eh.. mending ke rumah Ziar aja, kan lebih
luasan”. Teman-teman setuju, tapi ada satu
yang tak sependapat denganku “padahal kita udah mau lulusan, gimana sih
kok gak kompak?” gumamku. Akhirnya aku dan teman-teman yang lain kecuali Iftha,
Wida, Putra dan Syarif aja yang ga mau ikut. Aku dan taman-temanpun langsung
tancap ke rumah Ziar, kita langsung kerjakan semua PR yang udah segunung,
gara-garanya tak pernah mengerjakan PR (namanya saja anak muda! Suka malas-malasan,
mending main hp daripada belajar).
Keesokan
harinya ketika semua anak berkumpul dalam kelas yang sangat ricuh, ada yang
suka diem, suka ngejailin temen, buku-buku berserakan sana-sini, suara berisik
di semua sudut ruangan. Iftha di kelas di panggil “Dona” memang iu nama
panggilan dia dari SD. Ketika hendak menyapanya seperti ada yang berubah, dia
sepertinya marah denganku. “Dona kenapa?” tanyaku. Dia tak menjawab sepatah
katapun. Aku mulai resah dengan tingkahnya, tapi anehnya dia tak marah dengan
siapapun kecuali aku.
Hari
demi-hari aku jalani tanpa bergurau dengannya seperti hari-hari sebelumnya, menyembunyikan
pertengkaran ini dari teman-temanku,tapi lama-lama mereka merasa seperti ada
yang aneh di atara kita berdua, padahal aku juga udah minta maaf, juga sms dia.
Tapi dia tidak pernah membalas perminta maafanku. Aku merasa sedikit kecewa,
akhirnya aku membiarkannya saja. Sampai dia mau memaafkanku.
Sudah
beberapa ujian yang ku lewati rasanya tanpa satu teman berharga itu sangat
hampa. Mau apa lagi dia masih belum bisa memaafkanku. Hingga sampailah saat
yang ku tunggu-tunggu yaitu UN (bakalan rajin tahajutan nih).
Satu
hari sebelum UN aku dan teman-teman do’a sama-sama di sekolah, sambil di beri
arahan-arahan buat persiapan UN besok, sambil meminta maaf sama guru-guru.
Setelah acara selesai, kita di perbolehkan pulang. Aku berdiri hendak mau
pulang sambil canda-candaan sama Ziar, tiba-tiba ada yang pegang tanganku dari
belakang. Aku fikir siapa!! Ternyata Dona “maafin aku ya!!” ucapanya. Seketika
aku langsung menjawabnya “ia, sama-sama. Aku udah maafin kamu dari dulu”. Satu
bulan sudah aku dan dia tak saling tegur sapa, kini akhirnya dia mau maafin
aku.
